/ satuRiau.com / Nasional /Nestle Menggiring Orangutan Menuju Kepunahan
Nestle Menggiring Orangutan Menuju Kepunahan
Ilustrasi produk nestle
Jumat, 19 Maret 2010 | 11:18
JAKARTA (satuRiau) – Greenpeace menunjukkan Nestle menggunakan minyak kelapa sawit yang berasal dari perusakan hutan dan lahan gambut Indonesia dalam produk seperti Kitkat, menggiring orangutan terancam menuju kepunahan.
Laporan Greenpeace berjudul “Caught Red-Handed (Tertangkap Basah)” menunjukkan bagaimana Nestle mendapat pasokan minyak kelapa sawit dari suplier, termasuk produsen terbesar dan paling merusak – Sinar Mas Group. Sebagai produsen terbesar Indonesia, Sinar Mas terus melakukan ekspansi pada lahan gambut dan hutan alam, termasuk habitat orangutan. Sinar Mas juga pemilik Asia Pulp and Paper (APP), perusahaan pulp and paper terbesar Indonesia.
Kemarin, berbagai aksi protes dilakukan di seantero Eropa dimana sekitar 100 aktivis Greenpeace, sebagian mengenakan kostum orangutan, datang ke Kantor Pusat Nestle di Inggris, Jerman dan Belanda. Mereka meminta pegawai Nestle untuk mendesak perusahaan berhenti menggunakan minyak kelapa sawit yang berasal dari perusakan hutan.
Nestle, salah satu perusahaan makanan-minuman terbesar dunia, adalah konsumen besar minyak kelapa sawit. Tiga tahun terakhir penggunaan minyak kelapa sawit mereka hampir dua kali lipat, dengan 320.000 ton minyak kelapa sawit digunakan untuk berbagai produk, termasuk Kitkat.
“Setiap Anda menggigit Kitkat, Anda mungkin menggigit sedikit hutan alam Indonesia, yang sangat penting bagi kelangsungan orangutan. Nestle perlu memberi orangutan /break/ dan berhenti menggunakan minyak kelapa sawit yang berasal dari perusakan hutan,” ujar Daniela Montalto, Jurukampanye Greenpeace International.
Laporan ini diluncurkan menyusul beberapa upaya sebelumnya untuk membujuk Nestle membatalkan kontrak dengan Sinar Mas. Terakhir, pada Desember, Greenpeace mengirim surat ke Nestle beserta bukti Sinar Mas melanggar hukum Indonesia dan mengabaikan komitmen mereka sebagai anggota Organisasi Minyak Sawit Berkelanjutan (Round Table on Sustainable Palm Oil – RSPO), badan yang didirikan untuk membuat industri sawit berkelanjutan. Bukti menunjukkan bahwa perusakan hutan oleh Sinar Mas terus terjadi.
Menanggapi praktik perusakan lingkungan yang tidak bisa diterima ini, beberapa perusahaan besar termasuk Unilever dan Kraft, telah melakukan pembatalan kontrak dengan Sinar Mas Grup.
“Sinar Mas tidak hanya bertanggung jawab terhadap terus berlangsungnya perusakan terhadap keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi ekspansi besar-besaran perkebunan mereka juga mengancam kehidupan jutaan masyarakat yang hidupnya tergantung pada hutan,” ujar Bustar Maitar, team leader kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara.
“Perusahaan besar lainnya telah melakukan sesuatu terhadap hal ini, tetapi Nestle terus menutup mata terhadap perilaku buruk pemasoknya, ini saatnya Nestle membatalkan kontrak dengan Sinar Mas dan mendukung penghentian perusakan hutan dan lahan gambut,” Bustar menegaskan.
Sebagai bagian dari kampanye, Greenpeace juga meluncurkan video mengenai betapa Kitkat terkait dengan kelangsungan orangutan. Video berjudul “Have a Break” ini bisa dilihat di www.greenpeace.org/kitkat
Indonesia saat ini merupakan negara dengan laju deforestasi tercepat di dunia, dimana ekspansi perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab utama. Sebagai akibatnya, Indonesia kini adalah negara terbesar ketiga penghasil emisi gas rumah kaca, setelah China dan Amerika Serikat. [**/rilis]