JAKARTA (satuRiau) - Pergerakan nilai tukar rupiah selama sepekan ke depan diprediksi masih bergerak menguat di kisaran Rp9.100 per lembarnya. Hal ini, seiring dengan perbaikan sentimen di pasar New York (NW) pada penutupan pasar minggu lalu, tampaknya pasar Asia juga akan positif pada pembukaan pekan ini.
"Nilai tukar rupiah (IDR) berpotensi menguat kembali ke Rp9.125 per USD, tetapi sentimen investor masih rentan sehingga kemungkinan rupiah masih akan tertekan terus ke Rp.9.325 per USD untuk pekan ini," ungkap analis Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih, dalam buletin yang dipublikasikan, di Jakarta, Senin (24/5).
Sepekan lalu, pasar global kembali tertekan, selain karena masih khawatir dengan masalah utang di Uni Eropa, investor juga khawatir dengan lolosnya RUU keuangan AS dari Senat dengan kemenangan 60-40 untuk dilanjutkan ke Kongres, dan angka jobless claim yang lebih tinggi dari ekspektasi.
Sentimen negatif tersebut membuat nilai tukar mata uang Asia sebagian besar masih melemah, termasuk rupiah yang ditutup di Rp.9.281 per USD (kurs tengah Bloomberg). Di sepanjang minggu tersebut, rupiah melemah hampir dua persen dibandingkan minggu sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi pada harga saham di Asia yang ditutup turun.
Sekadar mengingatkan, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lagi 71 poin menjadi 2.623,22. Namun penurunan global tersebut membaik ketika pasar NY pada hari Jumat lalu ditutup positif, yang juga mendorong kenaikan harga minyak WTI ke USD68,04 per barel. [**/okz] |